Kamis, 22 September 2011

Punakawan Dalam Pewayangan Jawa

 
Punakawan merupakan tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan (yang lucu-lucu). Tokoh-tokoh ini dalam sejarahnya tidak ditemui dalam kisah Mahabharata asli atau versi mitologi Hidu. Konon, tokoh-tokoh ini diciptakan oleh Sunan Kalijaga, atas saran para Wali lainnya juga, sebagai salah satu media dalam melakukan penyebaran agama Islam di tanah Jawa.
 
Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan.

Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan.

Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.

Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.
 
Punakawan terdiri dari empat tokoh denga berbagai karakter yang unik di dalamnya. Ada Semar, Petruk, Nala Gareng dan juga Bagong. Menilik karakter yang ada, Semar adalah si bijak yang kaya ilmu dan memiliki sumbangsih yang besar pada ndoro-ndoronya lewat petuah-petuah yang disampaikan, meski kadang dengan gaya bercanda. Sementara itu, Gareng adalah tokoh yang tidak cakap dalam berkata-kata walau sebenarnya memiliki pemikiran-pemikiran luar biasa, cerdik dan pandai.


Semar ( Sang Bapak )

Semar berasal dari kata Arab simaar atau ismarun yang artinya paku. Paku adalah alat untuk menancapkan suatu barang, agar tegak, kuat dan tidak goyah. Semar juga memiliki nama lain, yaitu Ismaya, yang berasal dari kata asma-Ku atau simbol kemantapan dan keteguhan. Karena itu usaha yang dilakukan harus didasari keyakinan yang kuat agar usaha tersebut tertancap sampai mengakar.
 
Semar - Simbol Kematapan dan Keteguhan

 
Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. Semar disegani oleh kawan maupun lawan, karena Semar adalah perwujudan Sang Hyang Ismaya yang menjadi manusia. Ismaya adalah simbol dewa yang menjadi manusia karena keinginannya menguasai dunia, berbeda dengan Manikmaya yang hanya patuh atau sebaliknya Sang Hyang Antaga yang memiliki keinginan sama dengan Sang Hyang Ismaya.

Setelah Sang Hyang Ismaya menjadi manusia yang buruk dan bertubuh gendut maka berjalanlah ke bumi memenuhin tugasnya mengabdi pada satria yang menegakkan keadilan dan memerangi angkara murka.

Gareng ( Hati yang tidak boleh kering )
Nala Gareng sejatinya berasal dari kata naala qorin yang artinya memperoleh banyak kawan… memperluas sahabat. Bahasa ndeso-nya, networking. Tidak jarang, pekerjaan datang dari kawan tanpa pernah diduga-duga.
 
Gareng adalah anak pertama Semar. Gareng konon berasal dari batang kayu kering, kemudian dijadikan Semar yang merasa kesepian di bumi menjadi anaknya.
 
Gareng adalah tokoh yang tidak cakap dalam berkata-kata, tapi memiliki pemikiran-pemikiran luar biasa, cerdik dan pandai, banyak kawan
 

Nalagareng adalah seorang yang tak pandai bicara, apa yang dikatakannya kedang-kadang serba salah , tetapi dia sangat lucu dan menggelikan.

Ia pernah menjadi raja di Paranggumiwang dan bernama Pandubergola.  Ia diangkat sebagai raja atas nama Dewi Subadra, bahkan ia sangat sakti dan hanya bisa dikalahkan oleh Petruk

Petruk ( Kecerdasan yang rendah hati )
Petruk diadaptasi dari kata fatruk yang artinya tinggalkan yang jelek. Selain itu, Petruk juga sering disebut Kanthong Bolong artinya kantong yang berlobang. Maknanya bahwa setiap manusia harus menzakatkan hartanya dan menyerahkan jiwa raganya kepada Yang Maha Kuasa secara ikhlas, tanpa pamrih dan ikhlas, seperti bolongnya kantong yang tanpa penghalang. Sejalan dengan orang berusaha, sikap kemantapan dan keteguhan yang tanpa pamrih dan ikhlas niscaya akan memberikan hasil yang terbaik.
Petruk - simbol tanpa pamrih dan ikhlas


Petruk adalah anak kedua Semar. Petruk berasal dari jin atau genderuwo yaitu mahluk halus yang nakal dan cerdas.

Petruk memiliki peran yang cukup menonjol di samping cara berbicaranya seperti satria,. Beda dengan Gareng atau Bagong yang disengaukan oleh Sang Dalang, maka Petruk berbicara lantang dan terkadang kelewat berani.Lakon yang digemari adalah Petruk jadi Ratu. 
 
Dalam lakon ini Petruk mendapat kesempatan menemukan pusaka " Jamus Kalimasada " milik Prabu Darmakusuma atau Puntadewa yang meninggalkan pemiliknya karena sang pemilik meninggalkan amalan-amalan yang menjadi syaratnya. Amalan pertama, sang pemilik harus memiliki iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, percaya kepada Rasul-Nya, ketiga percaya pada malaikat-nya, Empat Kitab-Nya, dan terakhir beriman pada Qadha dan Qadar.

Bagong ( Bayangan Semar )
 
Bagong, berasal dari kata bagho yang artinya pertimbangan makna dan rasa, antara yang baik dan buruk, benar salah. Dalam versi lain kata Bagong berasal dari Baqa’ yang berarti kekal atau langgeng. Ini sama halnya dengan sikap instropeksi yang terus-menerus walau sudah terasa nyaman di badan. Kenapa? Agar usaha yang dilakukan bisa kekal yang langgeng karena usaha itu penuh dengan ketidakpastian.
 
Bagong - simbol pertimbangan makna dan rasa, antara yang baik dan buruk, benar dan salah
 
Bagong adalah punakawan Jawa. Dalam wayang Sunda dikenal nama Cepot. Bagong adalah anak bungsu Semar atau punakawan ke 4. Dalam cerita pewayangan, Bagong adalah tokoh yang diciptakan dari bayangan Semar.

Bagong bertumbuh tambun gemuk seperti halnya Semar. Namun seperti anak-anak semar yang lain, Bagong juga suka bercanda bahkan saat menghadapi persoalan yang teramat serius selain itu bagong juga memiliki sifat lancang dan suka berlagak bodoh

Bagog berarti bayangan semar. Alkisah ketika diturunkan ke dunia, Dewa bersabda kepada semar bahwa bayangannya lah yang akan menjadi temannya. Seketika itu juga bayangannya berubah wujud menjadi bagong .


Sumber : yaenal.web & yudhi-almachzumi.blogspot.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar